Dulu seorang guru pernah bilang, siapa yang mau memimpin bangsa ini, cobalah mengendarai bus umum.
Agar dia bisa melihat seorang ayah yang pergi pagi-pagi lintas kota untuk mencari nafkah; anak muda yang waktu dhuha harusnya berada di kelas tapi ia pulang karena dirundung kawan; sampai seorang petani teh yang mengadu nasib di pasar dekat alun-alun.
Supaya ia melihat orang0orang bukan dari stories bedaknya. Supaya ia memandang langsung binar mata seorang anak yang amat senang menenteng maianan plastik setelah ikut ibunya ke pasar.
Agar ia dengarkan obrolan semasa bapak tua yang membicarakan rencana setelah ambil uang pensiun. Denyut nadi kehidupan itu akan membuatnya peka.
Dia akan merasa memiliki bangsa ini, jadi bagian dari masyarakat; agar nanti ketika ia di atas, yang dia gemakan adalah suara bisik yang nadanya tak terdengar di istana.
Dia akan menjadi apa yang dikatakan para ulama dulu, "orang terhormat sebuah kaum adalah pelayan mereka."
Terlepas dari ada atau tidaknya kemauan memimpin bangsa ini, kiranya sudah seeloknya kita juga ikut melihat hidup dengan lebih jelas, dengan berjalan keluar rumah sebentar dan sapa, siapa saja sekadar menanyakan kabarnya, bagaimana hidupnya atau dengan diam duduk di kursi halte, membaca langkah kaki seribu manusia, dengan asal berbeda dengan tujuan yang berbeda pula.
Dari situ, kita akan lebih banyak bersyukur dan merasa memiliki tanggungjawab untuk memperbaiki keadaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar