Amar ma’ruf nahi munkar, kalimat yang sering kali diucapkan oleh umat
Islam terlebih para ulama, juga sudah sangat umum digunakan di
Indonesia.
Kalimat Amar ma’ruf nahi munkar berasal dari bahasa Arab, yang
asalnya adalah الأَمْرُ بِالمَعْرُوْفِ وَ النَّهْيُ عَنِ الُمْنكَرِ
(Al-Amru bil ma’rûf wan Nahyu ‘anil munkar) artinya, “menyuruh kepada
suatu kebaikan dan mencegah dari sesuatu yang diingkari oleh agama
(mungkar).
Mengapa Harus Ber-amar Ma’ruf Nahi Munkar?
Jika dipandang dari sudut syariah kata amar ma’ruf nahi munkar telah
menjadi istilah yang merupakan ajaran pokok agama Islam. Mengapa?
Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 2
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ
وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٲنِۚ
وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebaikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya.”
Kemudian dikuatkan oleh hadits, dari Abu Sa’id Al Khudri r.a berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda;
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم
يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ،
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ .رواه مسلم
“Siapa yang melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tangannya,
jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka
(tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya
iman. (Riwayat Muslim)”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia sebagai makhluk sosial,
karena manusia hidup saling membutuhkan untuk bisa meraih kebahagiaan,
harus berinteraksi dan bekerja dengan manusia lainnya, agar dapat
membentuk sistem sosial yang harmonis, juga menggapai hidup yang
berkualitas.
Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya, supaya dapat
saling memberi dan saling mengambil manfaat. Orang kaya tidak dapat
hidup tanpa orang miskin yang menjadi pegawainya, begitu pula orang
miskin tidak dapat hidup tanpa orang kaya yang mempekerjakan dan memberi
upah padanya, demikianlah seterusnya.
Berbuat baik harus dilakukan setiap orang dengan ikhlas dan sabar,
terutama kepada Allah dengan beribadah kepadanya, kepada Rasulullah
dengan mengikuti sunahnya, kepada orang tua dengan menghormatinya,
kepada saudara, teman, orang yang tak dikenal maupun kepada ciptaan
Allah yang lainnya.
Berbuat baik bisa dilakukan dengan perbuatan, ucapan, ataupun sikap
kita. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Az-Zukhruf ayat 32:
أَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَةَ رَبِّكَ
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيْشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍلِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ
بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan
kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa
derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.
Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Dalam hal ini, Allah juga berkata bahwa orang mu’min adalah saudara
sehingga diperintahkan untuk berdamai dan bertaqwa kepada Allah, seperti
dalam surat Al-Hujurat ayat 10;
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya
kamu mendapat rahmat.”
Juga di dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar yang diriwayatkan Bukhari
dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Orang muslim itu saudara bagi orang
muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak pula membiarkannya
dizalimi.“
Dari petikan dalil dan hadits di atas dapat disimpulkan bahwa manusia
diciptakan untuk berbuat baik, mengajak kepada kebaikan dan mencegah
perbuatan yang munkar, tujuannya supaya beribadah kepada Allah.
كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ
لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنڪَرِ
وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡڪِتَـٰبِ لَكَانَ
خَيۡرً۬ا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَڪۡثَرُهُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
“Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang
dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat
segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi
mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang yang fasik.” (Ali-Imran:110)
Keutamaan Amar Ma’ruf
1. Mendapatkan Pahala
“Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah SAW bersabda ; Barang
siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala
orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari mereka sedikitpun dan
barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa
sebagaimana dosanya orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari
mereka sedikitpun.”
2. Gugurnya Kewajiban
Jika seseorang telah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar maka
gugurlah kewajibannya (pelepas tanggung jawabnya), berhasil ataupun
tidak berhasil. Karena tugasnya hanyalah menyeru kepada kebaikan dan
mencegah kemungkaran semampunya, sedangkan hasilnya Allahlah yang
menentukannya. Sehingga ketika ia telah melaksanakan kewajiban, maka di
akhirat ia tidak akan dituntut lagi.
وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ
تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا
شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka
berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan
mereka atau mengazab mereka dengan azab yang Amat keras?” mereka
menjawab: “Agar Kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada
Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-A’raf : 164)
3. Suatu Bentuk Syukur
Amar ma’ruf nahi munkar adalah bentuk syukur seorang hamba kepada
Allah subhanahu wata’ala atas segala nikmatnya khususnya nikmat sehat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ
أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ: فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ
صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ،
وَأَمْرٌ بِاْلمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ اْلمُنْكَرِ صَدَقَةٌ
“Setiap persendian anggota tubuh salah seorang di antara kalian
menanggung kewajiban bersedekah setiap paginya; maka setiap tasbih
adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah
sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi
munkar adalah sedekah.” (HR. muslim No.720)
Sedangkan orang yang senantiasa bersyukur Allah akan menambah nikmatnya, Allah berfiman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan
jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih”.” (QS. Ibrahim: 7)
4. Mendapat Rahmat Dari Allah
Diantara sebab turunnya rahmat Allah subhanahu wata’ala adalah amar
ma’ruf nahi munkar. Karena dengannyalah masyarakat menjadi terkontrol,
dengannyalah mereka terdorong melakukan kebaikan walaupun sedikit, dan
dengannyalah api kemungkaran bisa padam. Sehingga dengan adanya amar
ma’ruf nahi munkar penduduk suatu negeri akan menjadi orang-orang yang
bertakwa.
Allah berfirman :
وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتُ
بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ۬ۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ
وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ
ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥۤۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ
سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ۬
“Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian
mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh
(mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan
shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا
وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa
mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf :96)
5. Dihapusnya Dosa
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ
وَنَفْسِهِ وِوَلَدِهِ وَجَارِهِ، يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ
وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ المُنْكَرِ
“Fitnah seorang laki-laki di tengah keluarganya, hartanya,
dirinya, anaknya dan tetangganya, dapat dihapuskan dengan puasa, shalat,
shadaqah dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari)
6. Dikabulkannya Do’a
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مُرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ قَبْلَ أَنْ تَدْعُوا فَلاَ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Serulah kepada kebaikan, dan cegahlah kemungkaran sebelum kalian berdoa sedang Allah tidak mengabulkannya.” (HR. Ibnu Majah)
7. Mendapat Kabar Gembira
التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ
السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat,
yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat
ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum
Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At-Taubah : 112)
8. Orang yang Beruntung
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ
إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104)
Adapun keindahan yang dirasakan setelah atau ketika melakukan amar
ma’ruf nahi munkar, yaitu mendapatkan kedamaian di hati, pada diri,
dalam hidupnya baik di dunia sampai akhirat, selain itu juga disayangi
Allah dan Rasulullah serta keluarga dan teman-temannya, juga selalu
dirindukan kehadirannya. Wallahu alam bishowab.